Dokter Blog: from the desk of Rahajeng Tunjungputri

Medicine et cetera by @ajengmd

Jejak Petualang

Satu posting singkat, untuk memperkenalkan Dokter Hippie, dengan sebuah blog:

Dokter Hippie Travels, di http://dokterhippie.bigbig.com

Salam,

RNT

Filed under: miscelaneous,

Dokter Muda/ Coass di RS Pendidikan: Aset atau Liabilitas?

Sebuah artikel di koran lokal beberapa hari yang lalu  (Radar Semarang) memuat judul “Dilematika Dokter Coass: Dinilai Repotkan Pasien, Demi Regenerasi Dokter”. Pada intinya artikel tersebut memuat keluhan pasien tentang dokter muda di rumah sakit pendidikan, “saya ogah dijadikan bahan praktik”.

Kemudian muncul pertanyaan setelah keluhan ini; dokter muda/ coass merupakan aset atau justru liabilitas sebuah rumah sakit?

Tentu saja sebagai seorang dokter yang telah menyelesaikan pendidikan, saya menyadari betapa pentingnya kegiatan belajar di fakultas kedokteran. 3,5 tahun di bangku kuliah, dilanjutkan dengan setengah tahun berlatih di laboratorium skill, sebelum akhirnya memulai kegiatan kepaniteraan klinik di rumah sakit selama hampir 2 tahun sebagai dokter muda atau coass. Untuk yang tidak familier dengan pendidikan dokter, kepaniteraan klinik adalah pendidikan profesi, sehingga semua dokter muda yang menjalani kepaniteraan klinik semuanya adalah sarjana lulusan S1. Selain itu, di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro kami juga masih menjalani pendidikan tambahan selama 2 bulan di RS Daerah dan Puskesmas di wilayah Jawa Tengah sebelum lulus sebagai dokter.

Di rumah sakit pendidikan tidak ada keputusan medis yang dibuat dan dijalankan sendiri oleh dokter muda/coass. Semua tindakan yang dilakukan oleh dokter muda telah sepengetahuan dan pengawasan dokter yang berwenang, dan telah dilakukan atas persetujuan pasien.

Memang dokter muda secara umum hanya “melakukan tugas sederhana”, seperti memeriksa pasien, belajar mengawasi pasien, memasang tensi dan mengukur suhu pasien. Namun selain tugas sederhana tersebut ada banyak kompetensi yang harus dipelajari dokter muda selama kepaniteraan klinik di rumah sakit.

Tentu saja semua dokter pernah merasakan betapa melelahkannya tugas-tugas ini saat pendidikan. Namun menyebut bahwa dokter muda melakukan hanya “tugas sederhana” di atas sepertinya pernyataan yang terlalu menyederhanakan realita. Dokter masa kini paham betul, bahwa saat lulus kita harus memiliki kompetensi yang memadai sebagaimana yang ditetapkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Diantara “tugas sederhana” yang wajib kita kerjakan siang, malam, dini hari dalam keadaan lelah, mengantuk dan lapar, diantara kegiatan belajar, mempersiapkan ujian, dan mengerjakan tugas-tugas teori, kita memiliki kewajiban untuk mempelajari dan menguasai keterampilan klinis sesuai standar kompetensi dokter umum. Selalu diantara “tugas sederhana” ini dokter muda masih harus belajar untuk memiliki keterampilan klinis misalnya kegiatan bedah minor seperti menjahit luka, memasang infus, menyuntik obat, memasang pembalut luka, melakukan tindakan untuk keadaan-keadaan emergency.

RS Pendidikan harus mendidik mahasiswa kedokteran, sebagaimana sebagai RS mereka tetap harus melayani pasien. Kembali saya ingatkan bahwa para dokter muda telah mendapat pendidikan dan persiapan sebelum memasuki jenjang kepaniteraan klinik maupun selama menjalaninya. Di Indonesia, hal ini dilakukan di beberapa lingkup tertentu RS Pendidikan tersebut sesuai kebijakan RS yang bersangkutan, dalam pengawasan dokter yang berwenang. Harap diingat, hal semacam ini dilakukan oleh semua rumah sakit pendidikan di seluruh dunia termasuk di negara barat. Tidak ada tempat bagi dokter-dokter baru lulus yang hanya merupakan produk lulusan laboratorium dengan alat-alat peraga berupa boneka. Dokter adalah profesi dengan tanggung jawab kemanusiaan yang berat, yang harus dididik dan dilatih untuk dapat bekerja mandiri menghadapi pasien, situasi klinis dan problem kesehatan yang kompleks di masyarakat. Dokter-dokter baru ini yang nantinya akan menjadi petugas kesehatan, dan bahkan sebagian akan memilih untuk menjalani kegiatan pengabdian dan ditempatkan oleh Departemen Kesehatan di daerah terpencil dan sangat terpencil di seluruh pelosok Indonesia. Meningkatnya derajat kesehatan bangsa Indonesia dan tingginya kualitas dokter tidak bisa lepas dari peran RS Pendidikan dalam mempersiapkan dokter-dokter baru.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka kehadiran coass di RS Pendidikan sebagai aset dan bukannya liabilitas membutuhkan kerja sama dan usaha keras dari semua pihak, baik RS Pendidikan, fakultas kedokteran, para coass sendiri dalam hubungannya dengan penyediaan layanan terhadap pasien.

Kegiatan supervisi yang selanjutnya harus ditingkatkan agar dokter muda dapat tetap menimba keterampilan dan pengalaman agar siap terjun di masyarakat, sementara pasien tetap mendapat penanganan yang optimal dari sebuah rumah sakit. Tentu saja hal ini harus dibarengi etika dan persiapan keterampilan yang matang dari dokter muda yang melayani pasien di rumah sakit.

Dr.Rahajeng Tunjung

Filed under: miscelaneous, , , , ,

png twitter

Follow my Twitter @ajengmd

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Disclaimer

Medicine is a growing field, and information presented here is reflective of the time of posting. Please refer to your physician for direct medical consultation. My views do not reflect those of my employers. --
Regards, Rahajeng

%d bloggers like this: