Dokter Blog: from the desk of Rahajeng Tunjungputri

Medicine et cetera by @ajengmd

Stratifikasi Risiko, Antibiotika Empirik dan Evaluasi Pasien PPOK Eksaserbasi Akut

Oleh: Dr. Rahajeng

Artikel ini adalah diskusi lanjutan dari Penggunaan Rasional Antibiotik pada PPOK Eksaserbasi Akut di blog ini. Silakan menuju ke artikel tersebut untuk pembahasan awal yang lebih lengkap.

STRATIFIKASI RISIKO, ANTIBIOTIKA EMPIRIK DAN EVALUASI PADA PASIEN PPOK EKSASERBASI AKUT

Salah satu tujuan dari GOLD, Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, adalah meningkatkan kesadaran dokter dan masyarakat mengenai gejala penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Klasifikasi derajat PPOK berdasarkan pemeriksaan spirometri dibagi menjadi 4 stage. Pesan kesehatan masyarakat yang penting adalah bahwa batuk dan produksi sputum kronik adalah hal yang tidak normal dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut mengenai penyebabnya.

Klasifikasi PPOK berdasarkan GOLD adalah (1):

Stage 1: PPOK ringan

Keterbatasan airflow ringan (FEV1/FVC < 70%, FEV1 ≥ 80% predicted), dan kadang, tapi tidak selalu, batuk dan produksi sputum kronik.

Pada tahap ini individu tidak menyadari bahwa fungsi parunya abnormal.

Stage 2: PPOK Sedang

Keterbatasan airflow memburuk (FEV1/FVC < 70%, 50% ≤ FEV1 < 80% predicted), timbul sesak napas setelah aktivitas (exertion)

Pada tahap ini individu biasanya mulai mencari pengobatan karena gejala pernapasan kronik atau eksaserbasi.

Stage 3: PPOK berat

Keterbatasan airflow makin memburuk (FEV1/FVC < 70%, 30% ≤ FEV1 < 50% predicted), sesak napas makin berat, kemampuan latihan menurun, dan eksaserbasi berulang yang berdampak pada kualitas hidup pasien.

Stage 4: PPOK sangat berat

Keterbatasan airflow sangat berat (FEV1/FVC < 70%, FEV1 < 30% predicted) atau FEV1<50% dengan gagal napas kronik.

Pada tahap ini kualitas hidup sangat berkurang dan eksaserbasi dapat menyancam jiwa.

Sebuah studi multicenter menyimpulkan bahwa stratifikasi GOLD dan kebutuhan akan terapi oksigen jangka panjang (Long term oxigen therapy/ LTOT) merupakan prediktor penting untuk perawatan di rumah sakit (2).

Berdasarkan GOLD 2008, indikasi untuk perawatan PPOK eksaserbasi akut di rumah sakit adalah (1):

–          Peningkatan mendadak dari beratnya gejala (misalnya tiba-tiba muncul gejala sesak napas saat istirahat)

–          PPOK berat

–          Timbulnya tanda baru (edema, sianosis)

–          Eksaserbasi yang tidak berespon terhadap penanganan awal

–          Komorbiditas yang signifikan

–          Eksaserbasi yang sering

–          Aritmia

–          Ketidakpastian dalam diagnosis

–          Usia tua

–          Perawatan di rumah yang kurang memadai

GOLD menyarankan pemakaian antibiotik pada kasus-kasus dengan peningkatan volume atau purulensi sputum, peningkatan derajat sesak napas, dan pada kasus yang membutuhkan ventilasi mekanik. Antibiotika diberikan secara empirik dan rasional, dengan memperhatikan stratifikasi faktor risiko yang dimiliki pasien.

ab

Pada eksaserbasi, secara klinis untuk memutuskan antibiotik apa yang digunakan secara empiris dapat digunakan algoritma di atas. Pasien dibedakan menjadi PPOK tanpa komplikasi dan dengan komplikasi (3).

PPOK tanpa komplikasi adalah pasien PPOK dengan usia > 65 tahun, FEV1 > 50% predicted, < 3 eksaserbasi per tahun, tanpa penyakit jantung. Untuk kelompok ini digunakan makrolid advance (azithromycin, clarithromycin), cephalosporin (cefuroxime), Doxycycline, Trimepthoprim-sulfamethoxazole, dan pada paparan antibiotik yang baru terjadi (< 3 bulan) perlu dipilih antibiotik alternatif.

PPOK dengan komplikasi adalah pasien usia ≥ 65 tahun, FEV1 ≤ 50%, ≥ 3 eksaserbasi/tahun, atau adanya penyakit jantung. Digunakan antibiotika: Floroquinolone (levofloxacin, moxifloxacin), amoxicilin-calvulanate, atau pada paparan antibiotik yang baru terjadi dapat dipilih antibiotik alternatif.

Antibiotik yang dipilih berdasarkan berat gejala dan pengelompokan risiko di atas diberikan selama menunggu hasil kultur dan uji sensitivitas atau dilakukan evaluasi dalam 72 jam. Kondisi klinis yang memburuk atau respon yang tidak adekuat dalam 72 jam merupakan indikasi untuk penyelidikan lebih lanjut.

Biasanya pengobatan diberikan selama 7-10 hari. Respon biasanya tampak dalam waktu 3-5 hari dan penggantian antibiotik dapat dipertimbangkan bila respon tidak memuaskan. Jika dilakukan pemberian antibiotik iv, maka penggantian antibiotik oral dilakukan setelah 72 jam (4).

Berbagai perkumpulan ahli pulmonologi di dunia memiliki panduan yang berbeda mengenai stratifikasi risiko dan pengelompokan pasien serta antibiotik apa yang dapat digunakan (5),(6). Namun pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa pemberian antibiotika pada pasien PPOK merupakan keputusan yang didasarkan atas situasi klinis pasien. Kebanyakan antibiotika baru merupakan modifikasi dari struktur yang telah ada, sehingga pemilihan antibiotika secara cermat harus dilakukan untuk mempertahankan sensitivitas antibiotika yang telah ada dan mencegah resistensi.

Referensi

(1). Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). Pocket Guide to COPD Diagnosis, Treatment and Management 2008.

(2). Lusuardi  M., Lucioni C., De Benedetto F., Mazzi S., Sanguninetti C. M., Donner C. F.GOLD severity stratification and risk of hospitalisation for COPD exacerbations. Monaldi archives for chest disease  2008, vol. 69, no 4, pp. 164-169. http://cat.inist.fr/?aModele=afficheN&cpsidt=21207919

(3). Sethi S. Murphy T. Infection in the Pathogenesis and Course of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. N Engl J Med 2008;359:2355-65.

(4). The Australian and New Zealand COPD Reference Site. COPD acute exacerbation plan. http://www.copdx.org.au/guidelines/ex_copd_acute_ex.asp

(5).Wilson R. Bacteria, antibiotics and COPD. Eur Respir J 2001; 17: 995–1007.

(6) Stoller J. Acute Exacerbations of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. N Engl J Med, Vol. 346, No. 13.

Disclaimer:

Bagan adalah milik New England Journal of Medicine, diunduh dari http://www.nejm.org.

Terima kasih kepada Dr. Nur Farhanah Sp.PD, staf bagian Infeksi Tropik FK Undip atas masukan yang berharga.

Filed under: miscelaneous, , , ,

One Response

  1. Dr. Nur Farhanah Sp.PD says:

    Penting DD antara PPOK dg asma, hal yg paling penting diantaranya usia onset : PPOK dekade 4-6, asma bervariasi,obstruksi yg persisten/iireversible pd PPOK, sdgkan asma reversible, rw atopi pd asma, merokok berkaitan dg PPOK,dan perbedaan hasil spirometri nya,dll
    Setelah terapi hal yg tdk boleh dilupakan dan kita sering melupakan adalah rehabilitasi, krn PPOK akan mengarah ke: ketdkmampuan fisik, penurunan kapasitas dan kualitas kerja, peningkatan biaya hidup.
    Tujuan rehabilitasi paru diantaranya mengurangi gejala dan konsumsi obat, memperbaiki kualitas kerja, meningkatkan kekuatan fisik dan harapan hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

png twitter

Follow my Twitter @ajengmd

Disclaimer

Medicine is a growing field, and information presented here is reflective of the time of posting. Please refer to your physician for direct medical consultation. My views do not reflect those of my employers. --
Regards, Rahajeng

%d bloggers like this: