Dokter Blog: from the desk of Rahajeng Tunjungputri

Medicine et cetera by @ajengmd

Pengelolaan Preeclampsia dan Eclampsia

Oleh: Dr. Putri Azalia, Dr. Jiska Brandsma, Dr. Rahajeng Tunjung

PENDAHULUAN

Penyakit hipertensi dalam kehamilan cukup sering ditemukan, yaitu pada sebanyak 10,6% wanita hamil. preeclampsia terjadi pada primigravida sebanyak 5,8% primigravida dan 0,4% gravida dua. Eclampsia adalah komplikasi yang jarang namun serius dari preeclampsia serta merupakan penyulit 1 dari 2000 kehamilan di Eropa, dan antara 1:100 sampai 1:1700 kehamilan di Negara berkembang. Di Inggris penyakit hipertensi dalam kehamilan menyebabkan 18,6% kematian ibu, di mana eclampsia menyebabkan 10% kematian tersebut. Insidensi dari preclampsia dan eclampsia lebih tinggi di negara-negara berkembang, dengan angka kejadian preeclampsia tertinggi di Zimbabwe yaitu 7,1% dari seluruh kelahiran dan eclampsia di Colombia sebesar 0,81 % dari kelahiran.

Tingginya insidensi di Negara dengan ekonomi lemah diperkirakan berasal dari kurangnya perawatan antenatal disertai keterlambatan pasien sampai di rumah sakit. Sejauh ini belum ada intervensi yang dilaporkan efektif untuk pencegahan dari preeclampsia.

Dalam kapita selekta ini kami membahas penatalaksanaan preeclampsia dan eclampsia. Keberhasilan pengelolaan preeclampsia dan eclampsia bergantung pada ketepatan diagnosis, ketepatan dalam merujuk serta menangani pasien. Pengelolaan yang terlambat maupun tidak tepat dapat menyebabkan ibu hamil dan janin mengalami berbagai komplikasi termasuk kematian.

TINJAUAN  PUSTAKA

KLASIFIKASI

Berikut klasifikasi hipertensi dalam kehamilan berdasarkan Pedoman Pengelolaan Hipertensi Dalam Kehamilan di Indonesia.

  • Hipertensi Gestasional: Desakan Darah ≥ 140/90 mmHg untuk pertama kalinya pada kehamilan, proteniuria (-) dan desakan darah kembali normal < 12 minggu pasca persalinan.
  • Preeclampsia ringan: Desakan Darah ≥ 140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu, proteniuria  ≥ 300mg/24jam atau dipstick ≥1+.
  • Preeclampsia berat: Desakan Darah ≥ 140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu, proteniuria  ≥ 300mg/24jam atau dipstick ≥1+, dengan salah satu tanda preeclampsia berat.
  • Eclampsia: Kejang pada preeclampsia disertai koma
  • Hipertensi kronik dengan superimposed preeclapsia: Timbulnya proteinuria ≥ 300mg/24jam setelah kehamilan 20 minggu pada wanita hamil yang sudah mengalami hypertensi sebelumnya.
  • Hipertensi kronik: Desakan Darah ≥ 140/90 mmHg, proteniuria-, sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan 20 minggu dan tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan.
  • Sindroma HELLP: Preeclampsia-eclampsia dengan adanya hemolisis, peningkatan enzim hepar, disfungsi hepar dan trombositopenia (hemolisis, elevated liver enzyme, low platelet count).

DIAGNOSIS

Penegakkan diagnosis dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis:

1. RPS: Nyeri kepala, gangguan visus, rasa panas dimuka, dyspnu, nyeri dada, mual muntah, kejang,berat badan bertambah dengan drastis.

2. RPD: hipertensi dalam kehamilan, penyulit pada  pemakaian kantrasepsi hormonal, penyakit ginjal, infeksi saluran kencing.

3. RPK: riwayat ibu dan saudara perempuan dengan preeclampsia-eclampsia.

4. R. gaya hidup: keadaan lingkungan social, merokok, minum

Pemeriksaan Fisik:

–       desakan darah

–       pulsasi perifer

–       edema (paru)

–       nyeri pada hepar

–       keadaan rahim dan janinnya

–       adanya klonus

–       retinopati

Pemeriksaan penunjang

No Test Diagnostik Penjelasan
1 Hemoglobin dan hematokrit Peningkatan Hb dan Ht berarti :

  1. Adanya hemokonsentrasi yang mendukung diagnosis PE
  2. Menggambarkan beratnya hipovolemia
  3. Nilai ini akan menurun bila terjadi hemolisis
2 Morfologi sel darah merah pada apusan darah tepi Untuk menentukan : –          adanya mikroangiopatik hemolitik anemia –          Morfologi abnormal eritrosit : schizocytosis dan spherocytosis
3 Trombosit Trombositopenia menggambarkan PE berat
4 Kreatinin serum Asam Urat serum Nitrogen Urea Darah (BUN) Peningkatan manggambarkan : –          Beratnya hipovolemia –          Tanda menurunnya aliran darah ke ginjal –          Oliguria –          Tanda PE berat
5 Transaminase serum Peningkatan Transaminase serum menggambarkan PE berat dengan gangguan fungsi hepar
6 Lactic Acid Dehidrogenase (LDH) Menggambarkan adanya hemolisis
7 Albumin serum dan faktor koagulasi Menggambarkan kebocoran endotel dan kemungkinan koagulopati

Faktor yang meningkatkan risiko preeclampsia-eclampsia:

  • Primigravida
  • Primipaternernity
  • Umur yang ekstrim
  • Partner laki yang pernah menikah wanita yang
  • kemudian hamil  dan mengalami preeclampsia
  • Pemaparan terbatas terhadab sperma
  • Inseminasi donor dan donor oocyte
  • Mola Hidatidosa
  • Kehamilan multiple
  • Infeksi saluran kencing pada kehamilan
  • Hydrops fetalis
  • Riwayat pernah preeclampsia
  • Hipertensi kronik
  • Penjakit ginjal
  • Obesitas
  • Diabetes gestational, DM tipe I
  • Antiphospholipid antibodies dan huperhomocysteinemia

Faktor yang menurunkan risiko preeclampsia-eclampsia:

  • Sex oral
  • Merokok

PENCEGAHAN PREECLAMPSIA

Upaya prevensi pre eklampsia, terutama dianjurkan untuk wanita hamil dengan resiko terhadap preeclampsia-eclampsia :

  1. Perubahan gaya hidup

–          Tirah baring : untuk wanita resiko tinggi yang normotensif, dua penelitian yang tidak begitu kuat menunjukkan bahwa tirah baring, sampai dengan 4 jam sehari di rumah, dapat menurunkan resiko preeklampsia.1 Untuk preeclampsia tirah baring total tidak menunjukkan hasil maternal maupun perinatal, yang berbeda dengan tirah baring tidak total di rumah sakit(Crowther 1986). Untuk Hipertensi gestasional tirah baring di rumah sakit terbukti dapat menurunkan hipertensi berat dibandingkan aktivitas biasa di rumah. Di Indonesia tirah baring masih diperlukan pada wanita resiko tinggi, walaupun belum terbukti dalam mencegah terjadinya preeclampsia maupun persalinan pre term.3  Pada JNC VII tirah baring disarankan pada pasien-pasien preeclampsia yang dirawat di RS.

–          Olah raga : Penelitian observasional mengasosiasikan olahraga dengan penurunan resiko dari preeclampsia. Mekanisme potensialnya meliputi penurunan tekanan darah, kadar lipid darah, dan sitokin proinflamasi.2 Walaupun tidak ditemukan penelitian yang menunjukkan pengaruh olahraga untuk pencegahan preeclampsia untuk wanita resiko rendah, olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang menguntungkan untuk alasan kesahatan tubuh secara keseluruhan (11 penelitian yang melibatkan 472 wanita).2 Olahraga tidak secara khusus menurunkan risiko preeclampsia.

2. Diet dan nutrisi

–          Tidak ada bukti yang jelas bahwa diet rendah energi dapat melindungi wanita overweight dari preeclampsia.

–          Restriksi garam tidak terbukti dapat mencegah terjadinya preeclampsia

–          Kalsium 1000-2000 mg/ hari, dapat dipakai sebagai suplemen pada wanita dengan resiko tinggi terjadinya preeclampsia. Efeknya paling terlihat untuk wanita resiko tinggi dan wanita yang asupan kalsium dalam dietnya rendah. Data terakhir dari WHO trial menyatakan bahwa pada wanita-wanita dengan diet yang rendah kalsium, asupan kalsium mendukung penurunan resiko preeclampsia yang cukup besar dibanding placebo. Terdapat pula penurunan resiko untuk eclampsia, hipertensi gestasional berat, dan terjadinya partus sebelum minggu ke 32.1

–          Antioksidan (  β carotene, CoQ10, N-Acetylcystein, asam lipoik dan terutama vitamin C dan E ). Preeclampsia sering dihubungkan dengan stress oksidative. Namun, pada penelitian randomized control trial yang dilakukan pada wanita-wanita nullipara dengan resiko rendah, terapi dengan vitamin C (1000 mg/d) dan vitamin E (400 IU/d) selama 14 – 22 minggu tidak menunjukkan reduksi pada insidensi dari preeclampsia ( 1 trial, 1877 wanita ). Penelitian lain menunjukkan bahwa pemberian suplemen vitamin C dan E justru dapat meningkatkan risiko preeclampsia.

–           Mikronutrien lain selain kalsium : Defisiensi dari Magnesium, Zinc, dan Piridoxin berhubungan dengan peningkatan kejadian hipertensi dalam kehamilan dan atau komplikasinya.2

3. Obat-obatan

Obat-obatan anti platelet, terutama aspirin dosis rendah (75–100 mg/d ), mengurangi resiko preeclampsia sebesar 19%. Heparin, tunggal atau kombinasi dengan obat antiplatelet, telah dianjurkan untuk wanit-wanita dengan resiko sangat tinggi, seperti penyakit ginjal dengan riwayat preeclampsia. Namun, penelitian saat ini masih terlalu kecil untuk mengambil keputusan.

PENCEGAHAN PREECLAMPSIA PADA WANITA DENGAN HIPERTENSI

Wanita dengan hipertensi perlu dievaluasi sebelum hamil menyangkut derajat berat hipertensi, kemungkinan penyebab hipertensi dan adanya kelainan organ target. Wanita hipertensi yang ingin hamil perlu mendapat obat hipertensi yang aman untuk kehamilan seperti metildopa atau beta bloker.

Selama kehamilan wanita dengan hipertensi kronik perlu mendapat penanganan sebagaimana yang akan dipaparkan di bab selanjutnya.

PENGELOLAAN PREECLAMPSIA

Preeclampsia Ringan

Pengelolaan PE ringan dapat secara :

1. Rawat jalan

Pengelolaan rawat jalan

  • Tidak mutlak harus tirah baring, dianjurkan ambulasi sesuai keinginannya. Di Indonesia tirah baring masih dianjurkan.
  • Diet regular (tidak perlu diet rendah garam/ restriksi kalori)
  • Vitamin prenatal (B6)
  • Tidak perlu pemberian diuretic, antihipertensi, dan sedativum
  • kunjungan ke RS. tiap minggu

2. Pengelolaan rawat inap

Indikasi rawat inap :

  • Hipertensi yang menetap selama > 2 minggu
  • Proteinuria yang menetap selama > 2 minggu
  • Hasil test laboratorium yang abnormal
  • adanya gejala atau tanda 1 (satu) atau lebih preeclampsia berat

Pemeriksaan dan monitoring pada ibu

  • Pengukuran tekanan darah setiap 4 jam kecuali ibu tidur
  • Pengamatan yang cermat adanya edema pada muka dan abdomen
  • Penimbangan berat badan pada waktu ibu masuk rumah sakit dan penimbangan dilakukan setiap hari
  • Pengamatan dengan cermat gejala preeclampsia dengan impending eclampsia:

–          Nyeri kepala frontal atau occipital

–          Gangguan visus

–          Nyeri kuadran kanan atas perut

–          Nyeri epigastrium

Pemeriksaan Laboratorium

a. Proteinuria dengan dipstick pada waktu masuk dan sekurang-kurangnya diikuti 2 hari setelahnya

b. Hematokrit dan trombosit : 2x seminggu

c. Test fungsi hepar 2 x seminggu

d. Test fungsi ginjal dengan pengukuran kreatinin serum, asam urat, dan BUN

e. Pengukuran produksi urine setiap 3 jam ( tidak perlu dengan kateter tetap)

Pemeriksaan kesejahteraan janin

  • Pengamatan gerakan janin setiap hari
  • NST 2x seminggu
  • Profil biofisik janin, bila NST non reaktif
  • Evaluasi pertumbuhan janin dengan USG, setiap 3-4 minggu
  • Ultrasound Doppler arteri umbilikalis, arteri uterine

Terapi medikamentosa

  1. Pada dasarnya sama dengan terapi ambulatoir
  2. Bila terdapat perbaikan gejala dan tanda-tanda preeclampsia dan umur kehamilan ≥ 37 minggu, ibu masih perlu diobservasi selam 2-3 hari kemudian boleh dipulangkan

Pengelolaan obstetrik

Pengelolaan obstetrik tergantung umur kehamilan

– Umur kehamilan < 37 minggu: Bila tanda dan gejala tidak memburuk, kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm

– Umur kehamilan ≥ 37 minggu

  • kehamilan dipertahankan sampai timbul onset partus
  • Bila serviks matang pada taksiran tanggal persalinan dapat dipertimbangkan dilakukan induksi persalinan

Bila penderita sudah inpartu : Perjalanan persalinan dapat diikuti dengan Grafik Friedman atau partograf WHO.

Konsultasi

Selama dirawat di rumah sakit dilakukan konsultasi pada :

  • Bagian Penyakit Mata
  • Bagian Penyakit Jantung
  • Bagian lain atas indikasi

Preeclampsia Berat

Pembagian PE berat :

PE berat tanpa impending eclampsia

PE berat dengan impending eclampsia, dengan gejala-gejala :

  • nyeri kepala
  • mata kabur

  • mual dan muntah
  • nyeri epigastrium
  • nyeri kuadran kanan atas abdomen

Dasar pengelolaan PE berat

Pada kehamilan dengan penyakit apapun pada ibunya, dilakukan pengelolaan dasar sebagai berikut :

  1. Rencana terapi pada penyulitnya : yaitu terapi medikamentosa dengan pemberian obatobatan untuk penyulitnya
  2. Menentukan rencana sikap terhadap kehamilannya :
  • Ekspektatif / Konservatif : Bila umur kehamilan < 37 minggu, artinya kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil memberikan terapi medikamentosa
  • Aktif / Agresif : Bila umur kehamilan ≥ 37 minggu, artinya kehamilan diakhiri setelah mendapat terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu.

  1. Pemberian terapi medikamentosa
    1. Segera masuk RS
    2. Tirah baring miring ke kiri secara intermitten
    3. Infus RL atau D5
    4. Pemberian anti kejang Mg SO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang
    5. Pemberian MgSO4 dibagi :

–          Loading dose : dosis awal –          Maintenance dose : dosis lanjutan

Sumber Regimen Loading dose Maintenance dose Dihentikan
1.Prichard 1955,1957 PE E Intermit-tent i.m. injection 10 g i.m. 1) 4 g 20% iv :1gr /mnt 2) 10 g 50% im : 5 gr bo-ka, 5 gr boki 3)Ditambah 1,0 ml lidokain 4) Jika konvulsi tetap stlh 15 mnt à 2 g 20% iv : 1 g/mnt obese : 4 gr iv 5 g 50% tiap 4-6 jam bergantian salah satu bokong 5 g 50% tiap 4-6 jam bergantian salah satu bokong (10 g MgSO4 im dalam 2-3 jam dicapai kadar plasma) 24 jam paska persalinan
2. Zuspan 1966 PEB E Continous iv injection Tidak ada 4-6 g iv dlm 5-10 mnt 1 g/ jam iv 1 g/jam iv
3. Sibai 1984 PE-E Continous iv injection 4-6 g 20% iv dilarutkan dalam 100 ml D5/ 15-20 mnt 1) Dimulai 2 g/jam iv dalam 1000 cc D5 : 100 cc/jam 2) Ukur kadar Mg setiap 4-6 jamm 3) Tetesan infus disesuaikan untuk mencapai maintain dose 4-6 mEq/l 24 jam paska persalinan
4. Magpie trial Collaboration Group, 2002 Sama dengan Prichard 1) 4 g 50% dilarutkan dalam normal saline iv, 10-15 mnt 2) 10 g 50% im – 5 g boka – 5 g boki 1) 1 g/jam/iv dalam 24 jam 2) 5 g im/4 jam dalam 24 jam

Syarat pemberian Mg SO4 :

  • Refleks pattela normal
  • Respirasi >16x/ mnt
  • Produksi urine dalam 4 jam minimal 100 cc
  • Siapkan ampul Kalsium Glukonat 10%
  • Antidotum : Bila timbul gejala dan tanda intoksikasi MgSO4.7H2O maka diberi injeksi Kalsium Glukonat 10%/10 cc

Jika refrakter terhadap MgSO4 dapat diberikan salah satu regimen dibawah ini:

  1. 100 mg iv Sodium Thiopenthal
  2. 10 mg iv diazepam
  3. 250 mg iv Sodium Amobarbital
  4. Phenitoin :
  • dosis awal 1000 mg iv
  • 16,7 mg/ mnt/1 jam
  • 500 g oral setelah 10 jam dosis awal dalam 14 jam

5. Anti hipertensi

  • Diberikan : bila tensi ≥ 180/110 atau MAP ≥ 126
  • Jenis obat : nifedipine 10-20 mg oral, diulangi stlh 30 mnt, max. 120 mg dlm 24 jam.
  • Nifedipine tidak dibenarkan diberikan dibawah mukosa lidah (sublingual) karena absorbsi yang terbaik adalah melalui saluran pencernaan.

Desakan darah diturunkan secara bertahap :

  1. Penurunan awal 25% dari desakan sistolik
  2. Desakan darah diturunkan mencapai : – <160/105, MAP <125

6. Diuretikum

Diuretikum tidak dibenarkan diberikan secara rutin, karena :

  1. Memperberat penurunan perfusi plasenta
  2. Memperberat hipovolemia
  3. Meningkatkan hemokonsentrasi

Diuretikum hanya diberikan hanya atas indikasi :

  1. Edema paru
  2. Payah jantung kongestif
  3. Edema anasarka

7. Diet

Diet diberikan secara seimbang, dengan menghindari protein dan kalori secara berlebih

Sikap terhadap kehamilan

Perawatan konservatif

Indikasi      : kehamilan <37 minggu tanpa disertai tanda-tanda dan gejala impending eclampsia

Tujuan             :

1. Mempertahankan kehamilan sehingga mencapai umur kehamilan yang memenuhi syarat janin dapat dilahirkan

2. Meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir tanpa mempengaruhi keselamatan ibu.

Terapi medikamentosa :

  1. Bila penderita sudah menjadi PE ringan , maka masih dirawat 2-3 hari lagi baru diizinkan pulang
  2. Pemberian MgSO4 tidak diberikan Loading dose iv, cukup im saja.
  3. Pemberian glukokortikoid diberikan pada umur kehamilan 32-34 minggu selama 48 jam.

Perawatan di RS :

  1. Pemeriksaan dan monitoring tiap hari terhadap gejala klinik :

–          Nyeri kepala

–          Penglihatan kabur

–          Nyeri perut kuadran kanan atas

–          Nyeri epigastrium

–          Kenaikan berat badan dengan cepat

  1. Menimbang BB, pada waktu masuk dan diikuti setiap hari
  2. Mengukur proteinuri ketika masuk RS dan diulangi tiap 2 hari
  3. Pengukuran tekanan darah sesuai standar yang telah ditentukan
  4. Pemeriksaan lab (tabel 1)
  5. Pemeriksaan USG sesuai standar, khususnya pemeriksaan :

–          Ukuran biometrik janin

–          Volume air ketuban

Penderita boleh dipulangkan 3 hari setelah penderita bebas dari gejala-gejala PEB.

Cara persalinan :

  1. Bila penderita tidak inpartu, kehamilan dipertahankan sampai aterm
  2. Bila sudah inpartu, perjalanan persalinan diikuti seperti lazimnya dengan persalinan pervaginam diutamakan, kecuali ada indikasi untuk pembedahan cesar.

Perawatan Agresif

Perawatan Agresif atas Indikasi :

– Indikasi Ibu :

a. Kegagalan terapi medikamentosa : setelah 6 jam sejak dimulainya pengobatan terjadi kenaikan desakan darah yang persisten.

b. Tanda dan gejala impending eclampsia

c. Gangguan fungsi hepar

d. Gangguan fungsi ginjal

e. Dicurigai terjadinya solutio placenta

f. Timbulnya onset partus , ketuban pecah dini, pendarahan

– Indikasi Janin :

a. Umur kehamilan ≥ 37 minggu

b. IUGR berat berdasarkan pemeriksaan USG

c. NST non reaktif dan profil biofisik abnormal

d. Timbulnya oligohidramnion

– Indikasi Laboratorium :

Trombositopenia progresif yang menjurus ke sindroma HELLP

Tujuan  : Terminasi kehamilan

Cara Persalinan :

Sedapat mungkin persalinan diarahkan pervaginam

  1. Penderita belum inpartu :

–          Dilakukan induksi persalinan bila skor Bishop ≥ 8

Bila perlu dilakukan pematangan serviks dengan mesoprostol. Induksi persalinan harus sudah mencapai kala II dalam waktu 24 jam. Bila tidak induksi dianggap gagal dan harus disusul dengan pembedahan cesar

–          Indikasi Pembedahan cesar :

  1. Tidak ada indikasi untuk persalinan pervaginam
  2. Induksi persalinan gagal
  3. Terjadi maternal distres
  4. Terjadi fetal distres
  5. Bila umur kehamilan <33 minggu

  1. Penderita sudah inpartu :

a. Perjalanan persalinan diikuti dengan grafik friedman

b. Memperpendek kala II

c. Pembedahan cesar dilakukan bila terdapat maternal distress dan fetal distress

d. Primigravida dianjurkan pembedahan cesar

e. Pada sectio caesaria anestesia : regional dan  epidural. Tidak dianjurkan general anestesia

f. Penatalaksanaan kala III dengan oxytocyn 5 unit iv, atau 10 unit im, terutama pada trombositopeni atau koagulopati

g. Ergometrin tidak boleh diberikan dalam bentuk apapun.

Penyulit Ibu

Sistem saraf pusat

  • Perdarahan intracranial
  • Trombosis vena sentral
  • Hipertensi ensefalopati
  • Edema serebri
  • Edema retina
  • Macular dan retina detachment
  • Kebutaan kortex

Gastrointestinal- hepatic

–          Subcapsular hematom hepar

–          Ruptur kapsul hepar

Ginjal

–          Gagal ginjal akut

–          Nekrosis tubular akut

Hematologik

–          DIC

–          Trombositopenia

Kardiopulmoner

–          Edema paru : Kardio/ non kardiogenik

–          Depresi/ arres pernafasan

–          Kardiac Arrest

–          Iskemia miokardium

Lain-lain : Ascites

Penyulit Janin

  • IUGR
  • Solutio placenta
  • IUFD
  • Kematian neonatal
  • Penyulit akibat prematuritan
  • Cerebral palsy

ECLAMPSIA

Dasar pengelolaan eclampsia:

  1. Terapi suportif untuk stabilisasi ibu
  2. Pengelolaan airway, breathing, circulation
  3. Mengatasi dan mencegah kejang
  4. Koreksi hipoksemia dan acidemia
  5. Mengatasi dan mencegah penyulit (misalnya krisis hipertensi)
  6. Melahirkan janin pada saat yang tepat dengan cara persalinan yang tepat

Terapi medikamentosa

  1. Rawat inap
  2. Tirah baring kiri secara intermiten
  3. Infus ringer laktat atau dektrose 5%
  4. Anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang, dengan loading dose dan maintenance dose.
  5. Anti hipertensi

–          Diberikan bila TD > 180/110 atau MAP > 126

–          Nifedipin 10-20 mg per oral, diulang setelah 30 menit, maksimum 120 mg dalam 24 jam.

–          TD diturunkan bertahap:

  • Penurunan awal 25% dari tekanan sistolik
  • Diturunkan hingga mencapai TD 160/105, MAP < 125
  1. Diuretikum diberikan hanya atas indikasi edema paru, gagal jantung kongestif atau edema anasarka.
  2. Diet: hindari protein dan kalori berlebih.

Perawatan kejang

  1. Tempatkan penderita di tempat tenang/ruang khusus
  2. Tempat tidur harus lebar, dapat diubah menjadi posisi trandelenburg
  3. Sisipkan spatula lidah antara lidah dan rahang atas
  4. Fiksasi badan harus kendor agar saat kejang tidak terjadi trauma
  5. Roda tempat tidur harus terkunci dengan baik

Perawatan koma

  1. Derajat koma diukur dengan Glasgow coma scale
  2. Jaga jalan napas
  3. Hindari dekubitus
  4. Perhatikan nutrisi

Pengelolaan kehamilan

–          Semua kehamilan eclampsia diterminasi tanpa memandang keadaan janin maupun usia kehamilan

–          Kehamilan diterminasi setelah hemodinamika dan metabolisme ibu stabil

–          Stabilisasi dicapai dalam 4-8 jam setelah salah satu keadaan berikut:

  • Pemberian obat kejang terakhir
  • Kejang terakhir
  • Pemberian obat anti hipertensi terakhir
  • Penderita mulai sadar

–          Cara persalinan dipilih sesuai keadaan saat itu

HIPERTENSI KRONIK DALAM KEHAMILAN

Pada hipertensi dalam kehamilan, pengelolaan sebagai berikut.

Pemberian antihipertensi pada:

–          Ibu sehat dengan  tekanan diastolik > 100 mmHg

–          Ibu dengan disfungsi organ dan tekanan diastolik > 90 mmHg

Obat antihipertensi:

–          Methyldopa: 0,5-3 gram/hari dibagi dalam 2-3 dosis

–          Nifedipin: 30-120 mg/hari

Pengelolaan kehamilan

–          Hipertensi kronik ringan: konservatif, sedapat mungkin pervaginam aterm

–          Hipertensi kronik berat: aktif, segera diterminasi; anestesi yang digunakan regional

Cara persalinan

Sedapat mungkin per vaginam

  1. Penderita belum in partu
    1. Induksi bila skor Bishop > 8. Induksi harus mencapai kala II dalam 24 jam, atau dianggap gagal. Induksi gagal perlu dilanjutkan dengan pembedahan caesar.
    2. Indikasi pembedahan caesar:
      1. Tidak ada indikasi persalinan per vaginam
      2. Induksi gagal
      3. Maternal distress
      4. Fetal distress
      5. Usia kehamilan < 37 minggu

SINDROMA HELLP

Diagnosis didasarkan pada

  1. Tanda dan gejala yang tidak khas: mual, muntah, nyeri kepala, malaise.
  2. Tanda dan gejala preeclampsia: hipertensi, proteinuria, nyeri epigastrium, edema, kenaikan asam urat
  3. Tanda hemolisis intravaskuler
    • Kenaikan LDH, AST dan bilirubin direk
    • Penurunan haptoglobin
    • Apusan darah tepi: fragmentasi eritrosit
    • Kenaikan urobilinogen dalam urin
  4. Tanda kerusakan dan disfungsi sel hepatosit hepar
  5. Trombositopenia

Wanita hamil dengan keluhan nyeri kuadran atas abdomen tanpa memandang ada tidaknya tanda dan gejala preeclampsia harus dipertimbangkan sindroma HELLP.

Terapi medikamentosa

  1. Terapi sesuai preeclampsia-eclampsia
  2. Pemeriksaan laboratorium untuk trombosit dan LDH tiap 12 jam
  3. Bila trombosit < 50.000/ml, harus diperiksa:
    1. waktu protrombin
    2. waktu tromboplastin parsial
    3. fibrinogen
  1. Pemberian  dexamethasone
    1. antepartum: jika trombosit < 100.000/ml : dexametason 10mg iv tiap 12 jam
    2. postpartum: dexametason 10 mg iv tiap 12 jam 2 kali, kemudian dikuti 5 mg iv tiap 12 jam 2 kali
    3. dexametason dihentikan bila:

-Perbaikan laboratorium: Trombosit > 100.000/ml, Penurunan LDH

– Perbaikan gejala klinis

Dapat dipertimbangkan transfusi trombosit bila trombosit kurang dari 50.000/cc.

Pengelolaan obstetrik

Sikap: terminasi kehamilan tanpa memandang umur kehamilan.

Preeclampsia ringan

ScreenHunter_02 May. 17 19.31

ScreenHunter_03 May. 17 20.12

ScreenHunter_04 May. 17 20.12

ScreenHunter_04 May. 17 20.12

ScreenHunter_05 May. 17 20.13

DAFTAR PUSTAKA

  • Brown MA, Lindheimer MD, Swiet M de, et al. The classification and diagnosis of the hypertensive disorders of pregnancy: statement from the International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy (ISSHP). Hypertens Pregnancy 2001; 20: IX-XIV.
  • Himpunan Kedokteran Feto Maternal POGI. Pedoman Pengelolaan hipertensi dalam kehamilan di Indonesia, edisi kedua 2005.
  • Mushambi et al. Recent developments in the pathophysiology and management in pre/eclampsia. Br J Anaesth 1996± 76±133/148.
  • Magee LA,Helewa M, Moutquin ML, Dadelszen v P. Diagnosis, evaluation, and management of the hypertensive disorders of pregnancy. J Obstet Gyneacol Can, 2008; 30; no 3.
  • Website www.nvog.nl, Dutch association of Obstetric and Gynaecology

Filed under: miscelaneous, , , ,

One Response

  1. Wow, very handy information! Nice quality blog post, very usefull information.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

png twitter

Follow my Twitter @ajengmd

Disclaimer

Medicine is a growing field, and information presented here is reflective of the time of posting. Please refer to your physician for direct medical consultation. My views do not reflect those of my employers. --
Regards, Rahajeng

%d bloggers like this: